Dua robot humanoid asal China berhasil mencatatkan waktu lebih cepat dari rekor dunia lari 100 meter yang dipegang Usain Bolt selama hampir 17 tahun. Prestasi ini tercatat pada babak penyisihan World Humanoid Robot Games 2026 yang digelar di Beijing.
Robot bernama Tiangong Ultra, yang dikembangkan oleh Beijing Humanoid Robot Innovation Center, menyelesaikan jarak 100 meter dalam waktu 9,39 detik. Hasil tersebut mengungguli rekor resmi Usain Bolt sebesar 9,58 detik yang dicetak pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin.
Robot kedua, Lightning milik produsen smartphone Honor, finis di posisi kedua dengan waktu 9,47 detik, juga lebih cepat dari rekor Bolt. Sementara robot dari Unitree Robotics finis terakhir dengan catatan waktu 12,41 detik.
Peningkatan Drastis dalam Satu Tahun
Hasil ini menandai kemajuan yang sangat signifikan dibanding edisi perdana ajang yang sama pada 2025. Saat itu, Tiangong Ultra membutuhkan waktu 21,50 detik untuk menyelesaikan jarak yang sama. Artinya, performa robot tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Sebelum kompetisi resmi, robot Lightning bahkan tercatat menyelesaikan 100 meter dalam 9,32 detik pada sesi uji coba, dengan kecepatan puncak mencapai 14,5 meter per detik (sekitar 52,2 km/jam). Kecepatan rata-rata Tiangong Ultra pada lomba resmi diperkirakan mencapai sekitar 38,3 km/jam.
Meski mencatatkan waktu yang mengesankan, kedua robot masih menunjukkan keterbatasan dalam pengendalian setelah melewati garis finis. Mereka langsung menabrak matras busa yang disiapkan di ujung lintasan. Tiangong Ultra sempat goyah dan hampir menabrak penonton di sisi lintasan, sementara Lightning kehilangan keseimbangan dan harus dibantu petugas.
Konteks Lebih Luas: World Humanoid Robot Games
World Humanoid Robot Games 2026 merupakan edisi kedua dari ajang yang digelar di National Speed Skating Oval, Beijing. Lebih dari 2.000 robot humanoid dari 666 tim yang mewakili 16 negara dan enam benua berpartisipasi. Kompetisi berlangsung selama lima hari dan mencakup 51 nomor, mulai dari lari, lompat tinggi, sepak bola, hingga tugas-tugas industri.
Selain rekor lari 100 meter, robot humanoid juga memecahkan rekor lompat tinggi berdiri. Salah satu robot berhasil melompat hingga ketinggian 2,88 meter, mengungguli rekor dunia manusia sebesar 2,45 meter yang dipegang Javier Sotomayor sejak 1993.
Robot Lightning sebelumnya juga pernah menarik perhatian global. Pada April 2026, robot tersebut memenangkan lomba half-marathon khusus humanoid di Beijing dengan waktu 50 menit 26 detik, lebih cepat dari rekor dunia half-marathon manusia.
Implikasi bagi Industri Robotika
Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa kemampuan mobilitas robot humanoid berkembang sangat pesat, terutama di China. Pemerintah dan industri setempat menempatkan robot humanoid sebagai salah satu sektor strategis, dengan harapan dapat diterapkan di manufaktur, logistik, dan berbagai aplikasi konsumen dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa kecepatan semata belum cukup. Kemampuan robot untuk berhenti dengan terkendali, menjaga keseimbangan di berbagai medan, serta mengambil keputusan secara mandiri di lingkungan yang tidak terstruktur masih menjadi tantangan besar. Peristiwa penabrakan matras setelah finis menjadi ilustrasi nyata bahwa kontrol dinamis dan kecerdasan situasional masih perlu ditingkatkan.
Meski demikian, lonjakan performa dalam waktu singkat menunjukkan bahwa kompetisi seperti World Humanoid Robot Games berfungsi sebagai katalis penting bagi inovasi. Ajang ini tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi teknologi, tetapi juga mendorong percepatan pengembangan sistem AI, aktuator, dan algoritma pengendalian gerak.
Dengan kemajuan yang ditampilkan di Beijing, persaingan global dalam pengembangan robot humanoid diperkirakan akan semakin intensif. China saat ini berada di garis depan dalam hal jumlah unit dan kecepatan inovasi, sementara negara-negara lain terus berupaya mengejar ketertinggalan di bidang yang sama.

